Senin, 17 November 2014

Bekal Dua Orang Musafir

“كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ”.
Ibnu Umar r.a. meriwayatkan dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda: “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seperti orang yang sedang dalam melakukan perjalanan”. (H.R. Bukhari)
KANDUNGAN HADITS
Dalam hadits ini Rasulullah SAW memberikan wasiat atau nasihatnya kepada seorang sahabat yunior, Abdullah bin Umar r.a., agar dia memosisikan dirinya di dunia ini seakan-akan orang asing atau sebagai musafir yang tengah melakukan perjalanan. Hidup di dunia ini merupakan ujian untuk menggapai kebahagian abadi di akhirat kelak, yaitu berupa surga Allah SWT yang luasnya seluas langit dan bumi; surga yang ketika orang memasukinya dia akan lupa segala penderitaan yang pernah dialaminya selama hidup di dunia.
Dalam kehidupan di dunia ini hanya ada dua macam perjalanan:
Pertama, Perjalanan Dunia
Dalam perjalan dunia atau yang sering disebut dengan safar (berpergian jauh), perbekalan yang cukup adalah sebuah keniscayaan. Dia harus memiliki bekal uang dan makanan yang cukup. Bekal kendaraan juga tidak kalah pentingnya sehingga dia bisa sampai pada tujuannya sesuai dengan jadwal.
Kedua, Perjalanan Akhirat
Dalam mempersiapkan bekal perjalanan dunia, kita selalu ingin bekal itu terpenuhi secara maksimal. Apalagi perjalanan menuju kehidupan akhirat yang tidak ada kehidupan setelahnya. Di akhirat nanti hanya ada dua tempat kembali yang pasti akan ditempati oleh setiap anak cucu Adam, yakni sorga dan neraka. Oleh karenanya, bekal perjalanan menuju akhirat harus lebih maksimal dibandingkan dengan bekal perjalanan dunia. Jangan sampai seorang yang akan melakukan perjalanan menuju

kehidupan akhirat lupa hakikat perjalan ukhrawi.
Seorang penyair mengingatkan kita dalam bait syairnya :
Berbekallah kamu sejak dini untuk kehidupan abadimu Beramallah untuk Allah dan siapkanlah bekal terbaikmu Jangan kamu memperkaya diri dengan segala yang ada di dunia Karena sesungguhnya harta kekayaan itu akan sirna Apakah kamu ingin menjadi teman suatu kaum Mereka memiliki bekal sedangkan kamu tidak memilikinya?
Bekal untuk kehidupan akhirat tidak sama dengan bekal kehidupan dunia. Bekal utama musafir dunia adalah uang, sedangkan bekal utama musafir akhirat adalah iman dan amal shalih atau takwa.
Allah SWT berfirman :

“وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى”.

“Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa…” (Q.S. Al-Baqarah/2 : 197)
Mari kita renungi bersama, apakah yang akan memberi manfaat kepada seseorang di dalam kuburnya? Tidak lain adalah amal shalih dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Jadi, mari kita ingat kembali, kita tidak akan tinggal untuk selamanya di dunia ini. Kehidupan akhirat adalah kehidupan hakiki. Perjalanan menuju kehidupan akhirat adalah sebuah keniscayaan. Kadikanlah diri kita ini seakan-akan orang asing dan orang yang sedang melakukan perjalanan sehingga kita dapat
memosisikan dunia ini sebagai tempat singgah sementara dalam menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar